Pertemuan itu nantinya selain untuk membahas tentang bagaimana caranya menghindari objek vital nasional (obvitnas), juga untuk membahas kemungkinan untuk memanfaatkan Pokemon Go untuk mendorong sektor pariwisata.
"Kemarin ketemu Googe ngomongin Pokemon, mereka kan (Niantic) platformnya pakai Google Maps. Nanti Kominfo, Google, Niantic, ketemu lagi," kata Rudiantara di Ruang Serbaguna, Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis, (11/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga sudah bicara kemarin sama Pak Arief Yahya (Menteri Pariwisata), gimana manfaatin Pokemon Go untuk pariwisata, kita minta ke daerah-daerah," lanjut menteri yang akrab disapa Chief RA tersebut.
Meski Google tak berurusan langsung mengenai pengoperasiannya langsung, karena dikembangkan oleh Niantic, tapi Rudiantara mengatakan Pokemon Go yang mengandalkan fitur GPS dari layanan Maps dari Google yang di mana itu berkaitan dengan keamanan.
"Sebaiknya kerjasama untuk lokasi yang ningkatin produktivitas. Mereka (Google) mau tindak lanjut, dan mau dijadwalkan ketemu bareng sama Niantic," kata Rudiantara.
Pada pertemuan kemarin dengan Google, Menkominfo menyampaikan dua fokus yang tengah dijalankan oleh Indonesia, yaitu percepatan pembangunan jaringan broadband yang menyeluruh, baik dalam hal backbone maupun akses, serta peningkatan efisiensi industri ICT Nasional.
Selain itu juga, Rudiantara juga meminta Google yang membawahi layanan pemetaan, Google Maps untuk tak menempatkan obyek vital nasional dijadikan bahan permainan game mobile, seperti yang terjadi di Pokemon Go.
Sejak pertama kali diluncurkan pada Pokemon Go pada 6 Juli, Niantic meluncurkan di tiga negara, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. Ketika itu, masyarakat Indonesia tertular demam Pokemon Go dengan mengunduhnya file instalasi APK.
Satu bulan kemudian, tepatnya 6 Agustus, Niantic menghadirkan secara resmi di 15 negara Asia, termasuk Indonesia yang ditandai dengan hadirnya Pokemon Go di toko aplikasi Play Store dan App Store. (rou/fyk)